Kuningan Suites
(di seberang Four Seasons Apartment,
di samping Ar-Rahman School)
Jl. Setiabudi Barat
Kuningan
Jakarta Pusat
Tel. 526 0260
Pendatang terbaru dalam gelombang restoran Italia di Kuningan ini membayangkan diri sebagai versi warung-kopi bintang lima dari Whitebait and Kale*—estetika putih kalem, ruang yang santai geboi tapi didesain dengan keren, pencahayaan yang apik, ambiens yang hangat, dapur terbuka, gudang anggur yang berkecukupan—dengan gaya yang sepadan. Saya mengunjungi tempat ini dua kali dalam tenggat waktu seminggu, dan dalam kedua kunjungan itu saya menerima sambutan yang paling belagu yang pernah saya alami di kota ini.
Sayang sekali sih, karena desain ruangnya sendiri sebenarnya punya banyak daya pikat: pada siang hari, sinar matahari membanjir melalui jendela-jendela berkusen putih; pada malam hari, bar dan the chef’s table (meja kehormatan chef) mengendalikan mood sementara aksen lantai kayu dan kursi gelondongan kayunya menubuh dibalut pencahayaan yang peka. Al fresco lounge di halaman belakang pun punya potensi besar, dengan atmosfer resor kelas atasnya dan kebijakan happy hour pada pukul 17.00 – 20.00.
Masakannya dua-per-tiga Italia dan sepertiga Pan-Asia, meski Anda dapat segera merasa bahwa yang pertamalah yang berteriak menarik perhatian. Anda juga merasa betapa sang dapur tak berupaya mendobrak batas apa pun, dan memilih menetap di wilayah aman yang telah teruji. Salad bebek panggang (roasted duck salad)-nya adalah salah satu contoh hidangan pembuka yang matang dan berkarakter: ia hadir dengan dressing yang ciamik, jeruk yang dikuliti dan cranberry yang dikeringkan. Ya, restoran ini masih dalam “masa pertumbuhan”, pendeknya masih terserok-serok. Tapi toh ada sesuatu yang menarik dalam ketakstabilan masakan di sini. Salad rucola dengan pir, kacang pine, dan keju fetanya menyenangkan meski sedikit terlampau manis—dan ada apa dengan cincin-cincin pir raksasa itu?
Santapan seperti tagliatelle spesial restoran ini, dengan saus bolognaise dombanya yang kental, menyiratkan otentisitas, mulai dari tingkat lumuran minyaknya, sampai ke rona merahnya, meski sesungguhnya ini sajian yang lebih cocok untuk malam-malam musim dingin di Umbria. Spaghetti aglio olio con tonno-nya merupakan kasus menarik: pada tingkat tertentu, tak ada al dente yang lebih apik maupun tingkat campuran minyak yang lebih piawai, dan ini sendiri merupakan hal yang menjanjikan. Tapi, pada akhirnya ia gagal sebagai konsep: tuna memang tak dirancang untuk saus ini, karena ia membutuhkan kompleksitas yang lebih tinggi; aglio olio pun sudah merupakan ide yang begitu mapan, begitu dipercaya, sehingga segala upaya untuk menambahkan elemen lain ke situ—kecuali peperoncino (cabai)—terasa seperti semacam pembantaian.
Paruhan ayam panggangnya juga sedikit mengecewakan, semata-mata karena saat Anda memesan separuh ayam panggang, Anda tak berharap sajian itu akan kuyup dibanjur saus jamur kental. Untungnya, saus itu sendiri ternyata lumayan (dalam langgam Kontinental ‘70-an yang, tak salah lagi, telah mengalami “Jawanisasi”) meski, lagi-lagi, tak konsisten (satu sisi terlampau matang, sisi lainnya nyaris sempurna).
Ada hal-hal yang patut disorot: sekitar 2.000 pilihan anggur, dengan harga mulai dari Rp 195.000; musik live pada Rabu malam, malam D.J pada Jumat. Sulit pula untuk tidak berlama-lama di sini, karena di tengah-tengah musik techno (yang, syukurlah, tak dipasang terlalu keras) dan ambisinya yang meletup-letup, tetap ada atmosfer “rumah tetangga yang nyaman” di sini. Semoga akan selalu begitu.
Harga: sekitar Rp 320.000 untuk berdua
Jam buka: 07.00 – 00.00 (hari kerja); 07.00 – 01.00 (akhir pekan)
Aturan busana: santai
Atmosfer: Amerika kalem modern
Alkohol: pilihan anggur yang baik, full bar
Metode pembayaran: menerima semua kartu kredit utama
Diulas pada: Maret 2009
