Boci Boci
Laksmi Pamuntjak
Ilustrasi  

Jl. Melawai VIII no. 4
Blok M
Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Tel. 7279 8463

Restoran yang hadir dengan sebuah konsep yang mencengangkan sangatlah langka; lebih langka lagi restoran yang  mencengangkan secara diam-diam. Tapi terlangka adalah restoran yang melakukan hal yang terakhir tak hanya sekali, tadi dua kali berturut-turut, sebagaimana yang dilakukan Boci Boci–dahulu Ambai –dengan kehidupan barunya. Pelesetan gaya Prancis yang sebelumnya ditampilkan untuk mengusik kaum puritan – keju camembert di atas hot plate, kerang atau remis dengan saus anggur putih–kini tergolong biasa dalam menu makanan pembuka restoran ini, yang kini seolah berkiblat ke arah hidangan-hidangan yang sudah teruji. Dekorasi kayu dan bambu yang ultra-modern tak banyak berubah kecuali bagian “pulau” di tengah-tengah restoran, yang dahulu, pada masa jaya Ambai, sudah terkesan agak genit; kini, sang “pulau” menjelma bilik dengan tiga tempat duduk. Pelayanan umumnya sudah sangat membaik, dengan satu dua pelayan yang sangat memahami tugasnya.

Untuk hidangan utama, hidangan yang ditawarkan masih bergaya makanan pembuka a la Jepang–semacam izakaya yang dibikin lebih trendi—ringan, halus, subtil. Yang menonjol di antaranya adalah kroket yang terbuat dari taro, terung pedas dan daging sapi cincang yang dibakar (tsukune); yang terakhir ini lembab dan lembut (sebaiknya pilih saus yang manis ketimbang yang asin), meski tempat ini bukan yakitori (restoran Jepang khusus ayam bakar). Namun ini bukan hal yang mengejutkan, karena toh sayap ayam dan dada ayam dengan daun plum-nya agak terlalu matang, dan tak memadai untuk standard sebuah yakitori sejati.

Lepas dari masalah presentasi, sashimi moriawase-nya bukan sesuatu yang layak dibicarakan, tapi unagi kamameshi-nya, yang berbumbu subtil dan porsinya besar, benar-benar jitu. Namun demikian, pesona malam itu adalah black sesame soup (sup ramen wijen hitam), yang tampak hijau-menggumpal memuakkan tapi dengan aroma yang setidaknya mewakili sebagian kenikmatannya. Hidangan ini, yang separuh sup dan separuh kuah kental, dibuat dengan kaldu ikan dan sayur yang mantap, yang, secara mengagumkan menghadirkan kehebohan sekaligus khasiat penyembuhan wijen hitam. Ini adalah hidangan yang menegaskan kehidupan sebagaimana kodrat makanan sebenarnya; Anda seolah mendengar para klien, yang kebanyakan pebisnis Jepang, mengangguk setuju.

Harga: Rp 500.000 untuk 2 orang
Jam buka: 18:00 – 23:00
Busana: kasual
Atmosfer: standar bergaya Jepang
Alkohol: shochu, sake, wine, bir
Metode pembayaran: menerima semua kartu kredit utama
Diulas pada: Agustus, September 2007


Sumber : Jakarta Good Food Guide


Good Wine List
Excellent Food
Cheap Eats
Rating
Cari Restoran
Area
Jenis Restoran
Jenis Makanan
Pilihan Laksmi
Selain menerbitkan seri Jakarta Good Food Guide yang telah memenangi sejumlah penghargaan, Laksmi Pamuntjak telah menghasilkan dua himpunan puisi, Ellipsis (salah satu buku terpilih harian The Herald UK tahun 2005) dan The Anagram; sebuah karya filosofis tentang manusia, kekerasan dan mitologi, Perang, Langit dan Dua Perempuan; dan sebuah kumpulan cerpen tentang lukisan, The Diary of R.S.: Musings on Art.

Laksmi juga menyunting dan menerjemahkan sajak-sajak Goenawan Mohamad dan buku aforismenya, Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai, ke dalam bahasa Inggris.

Saat ini Laksmi sedang menulis novel perdananya, The Blue Widow (Janda Biru), tentang kenangan sejarah 1965. Ia telah tampil dalam banyak festival dan acara-acara sastra internasional. Bulan April 2009 ia ditunjuk menjadi anggota juri Prince Claus Awards yang bermarkas di Amsterdam. Lihat www.laksmipamuntjak.com