Jl. Pangeran Jayakarta 44/1
(samping Wiltop Hotel)
Jakarta Pusat
Tel. 628 9433
Restoran ruko polos sempit berkursi 36 di samping Wiltop Hotel ini tak bisa lebih berbeda bahkan jika ia mencoba keras untuk tampil beda. Bahkan dengan hiasan-hiasan Pecinan yang umum—cahaya neon terang-benderang, taplak merah dadu berlapis plastik, kursi plastik hijau pucat, rangkaian bunga plastik, dan lukisan ikan Koi besar di atas meja yang terlampau besar hingga tak proporsional dengan ruang—Anda bisa merasakan bahwa ini adalah sebuah kosmos yang sungguh lain dari lain, hingga begitu Anda melangkah masuk, semua mata mengarah kepada Anda (seolah Anda lah makhluk asingnya).
Begitu Anda memastikan bahwa sang pemilik ternyata dari Taiwan, saat itu pula satu demi satu sajian memikat mengalir ke meja Anda. Dua hal yang saya maksud dengan “memikat”: a) beberapa sajian di menu ini belum pernah Anda dengar sebelumnya, apalagi Anda coba, dan b) hampir semuanya teramat ugahari—rempah-rempahnya nyaris tak tercecap, tapi toh terasa begitu lezat: bersih, lezat, memuaskan.
Udang bambu kukusnya, hidangan andalan restoran ini, tak hanya mantap tapi juga “montok”. Ya, udangnya gemuk-gemuk dan disajikan dalam jumlah yang murah hati. Sama sekali tak ada rasa amis di situ; demikian khusyuknya mereka digodok dalam kaldu yang berlimpah dengan kurma Cina, kismis Cina, dan kacang ginkgo. Ada sesuatu dalam kebeningan kaldunya yang terasa menyembuhkan dan menggairahkan, meski anehnya ia sama sekali tak terasa seperti jamu. Irisan labu kundur pahit yang ditumis dengan daging kocok juga punya kualitas serupa: nyaris tanpa rempah kasat mata (bawang putih, bawang bombay, minyak), dan murni oleh sari patinya sendiri, dengan sedikit aroma bakar yang menggigit. O ya, jangan lewatkan sup kerapunya, yang kental dan kaya dalam kaldu lobak, disajikan dalam mangkuk mirip wajan mini di atas jilatan api kecil.
Sementara Anda merenungkan pandangan politik Anda—apakah Taiwan negara pulau atau provinsi Cina?—mungkin Anda ingin mencoba beberapa sajian lain dalam menu: ada yang tertarik pada komodo biawak dalam saus angsio, atau Kiki dan Koko si tupai tumis bawang, atau Sir Kaa yang diasinkan? Apapun politik kuliner Anda, segalanya menjadi jelas pada titik ini—dari harganya yang sangat bersahabat (Rp 300.000 untuk lima sajian, atau untuk dua sajian dan seporsi sup kerapu), menu berbahasa Indonesia (tambahan baru—sebelumnya, Anda harus berkomunikasi dalam bahasa isyarat), sampai sajian penutupnya yang ciamik (cobalah kaldu longan dengan sagu). Bahkan sikap blak-blakan sang pramusaji, yang sudah pasti menyebalkan dalam konteks lain, pun terasa tepat untuk tempat ini.
Harga: sekitar Rp 300.000,00 untuk berempat
Jam buka: 09.00 – 23.00
Aturan busana: santai
Atmosfer: rumahan, lampu neon terang-benderang
Alkohol: hard liquor, bir
Metode pembayaran: menerima semua kartu kredit utama
Diulas pada: April 2009
