The Jakarta Good Food Guide (JGFG), yang pertama kali diluncurkan tahun 2001, adalah buku panduan restoran pertama di Indonesia yang independen. Ia tidak disponsori restoran dan hotel di Jakarta. Penulisnya selalu membayar penuh di setiap restoran yang ia kunjungi dan tak pernah memberi tahu kedatangannya kepada pihak restoran.
JGFG diawali dengan frustrasi penulisnya atas tidak adanya panduan makanan di Jakarta yang independen, komprehensif dan deskriptif. Melalui semacam “peta kuliner”, JGFGingin menjadi jendela ke dalam sosiologi kota Jakarta. Pada 2002, ia memenangi penghargaan “Editorial Merit” dalam International Graphic Design Award ke-10 Majalah HOW USA dan juga dimuat sebagai salah satu “Penerbitan Kelas Dunia” dalam koleksi National Library of Australia.
Penulisnya, Laksmi Pamuntjak, pernah diundang menjadi juri dalam kompetisi kuliner internasional seperti World Gourmet Summit dan tampil sebagai co-host dalam program TV Kulinaria (TV 7) bersama William Wongso. Laksmi juga seorang penyair dan penulis fiksi dan non-fiksi (www.laksmipamuntjak.com).
Selain menerbitkan seri Jakarta Good Food Guide yang telah memenangi sejumlah penghargaan, Laksmi Pamuntjak telah menghasilkan dua himpunan puisi, Ellipsis (salah satu buku terpilih harian The Herald UK tahun 2005) dan The Anagram; sebuah karya filosofis tentang manusia, kekerasan dan mitologi, Perang, Langit dan Dua Perempuan; dan sebuah kumpulan cerpen tentang lukisan, The Diary of R.S.: Musings on Art.
Laksmi juga menyunting dan menerjemahkan sajak-sajak Goenawan Mohamad dan buku aforismenya, Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai, ke dalam bahasa Inggris.
Saat ini Laksmi sedang menulis novel perdananya, The Blue Widow (Janda Biru), tentang kenangan sejarah 1965. Ia telah tampil dalam banyak festival dan acara-acara sastra internasional. Bulan April 2009 ia ditunjuk menjadi anggota juri Prince Claus Awards yang bermarkas di Amsterdam. Lihat www.laksmipamuntjak.com.